Sabtu, 17 Januari 2015

Kpop



Kpop
Apa sebenarnya kpop itu? Banyak kalyanak muda yg menggembor-gemborkan tentang kpop. Mereka menyeruakkan kebanggaan dan kecintaannya kepada para idolanya yang notabennya adalah para idol dari Soul Korea Utara. Memang benar idol dari korea sangatlah mencolok dengan wajah tampan, badan yang kekar, dan lihai dalam dance. Saya setuju bahwa kpop merupakan saluran anak muda jaman sekarang untuk berubah menjadi gila karena aksinya di atas pentas. Saya sendiri mengagumi kpop, saya bisa menjadi layaknya orang gila yang menyeruakkan kegembiraannya melihat idolanya diatas pentas. Tetapi banyak anak muda yang menjadi lupa akan budayanya sendiri, banyak ABG-ABG yang menirukan gaya idolanya, baik dari bahasa, gaya fashion, gaya rambut, dan banyak lainnya. Ababil-ababil yang menirukan gaya kpok biasanya menjadi lebih centil dan jauh lebih meninggalkan budayanya sendiri.

Jumat, 16 Januari 2015

politik



Politik Luar Negeri
Pada tataran praksis  politik  luar negeri suatu negara sesungguhnya merupakan  hasil perpaduan dari politik dalam negeri yang di pengaruhi oleh perkembangan  situasi reoginal maupun internasional, politik luar negeri merupakan arah kibijakan suatu negara untuk mengatur hubungannya dengan negara lain. Menurut undang – undang nomor 37 tahun 1999 tentang hubungan luar negeri dijelaskan bahwa politik luar negeri adalah kebijakan, sikap, dan langkah Pemerintah Republik Indonesia yang diambil dalam melakukan hubungan dengan negara lain, organisasi internasional, dan subyek hukum internasional lainnya dalam rangka menghadapi masalah internasional guna mencapai tujuan nasional. Menurut buku Rencana Strategis  Pelaksanaan Politik  Luar Negeri Republik Indonesia (1984-1988), politik luar negeri diartikan sebagai “suatu kebijaksanaan yang diambil oleh pemerintahan dalam rangka hubungan dengan negara internasional dalam mencapai tujuan nasional”. Melalui  politik  luar negeri pemerintah memproyeksikan kepentingan nasionalnya ke dalam masyarakat antar bangsa.
Kebijakan luar negeri suatu negara dipengaruhi oleh faktor luar negeri dan faktor dalam negeri.
a.Faktor Luar Negeri
Faktor luar negeri, misalnya akibat globalisasi, terorisme internasional, kondisi perekonomian dunia.
b. Faktor  Dalam Negeri
Faktor dalam negeri juga akan mepegaruhi kebijakan luar negeri suatu negara.



Selasa, 06 Januari 2015

Sigalovada sutta



Sigalovada Sutta

Saudara-saudara sedhamma, sebelumnya terimalah salam dalam dhamma, Nammo Buddhaya

Sigalovada Sutta adalah Sutta yang  berisikan tentang  wejangan Sang Buddha kepada Sigala, putra keluarga Buddhis yang berdiam di Rajagaha. Sigalovada Sutta berisikan bagaimana Sang Buddha menaruh perhatian  dan penghargaan besar terhadap penghidupan para upasakha dan upasikha, keluarga serta sahabat. Apabila masing – masing kelompok melaksanakan kewajibannya masing–masing sebagaimana yang telah diajarkan oleh Sang Buddha, maka  dalam kehidupan masyarakat akan menjadi ideal.
Sigalovada Sutta bermula dari kisah seorang pemuda bernama Sigala. Sigala merupakan seorang anak yang patuh, ketika ayahnya akan meninggal,  Sigala dipanggil dan disuruh menjalankan  nasehat terakhirnya. Ayahnya berpesan, “sesudah mandi pagi memujalah kepada enam arah, yaitu arah timur, selatan, barat, utara, bawah, dan atas”. Sigala menjalankan keinginan ayahnya, meskipun tidak mengetahui maknanya, karena Sigala ingin menghormati kata-kata ayahnya sehingga setiap hari ia bangun pagi–pagi dan  memuja keenam arah. Pada suatu hari, Sang Buddha melihat Sigala menghormati ke enam arah dan menasihati bahwa apa yang ia lakukan keliru dan ada cara yang lebih baik untuk melaksanakan pesan ayahnya. Kemudian Sang Buddha memberikan kotbah kepada Sigala bahwa arti dari pesan yang disampaikan ayahnya adalah bahwa kita memiliki kewajiban menghormati sesama. Penghormatan yang dilakukan dilambangkan dengan enam arah, yaitu:
a.       Arah timur sebagai Ayah dan Ibu
b.      Arah selatan sebagai guru dan murid
c.       Arah barat sebagi istri dan anak
d.      Arah utara sebagai kawan dan sahabat
e.       Arah bawah sebagai pelayan dan buruh
f.       Arah atas sebagai rohaniawan.
 Sigalovada Sutta berisikan ajaran Sang Buddha mengenai empat belas hal yang harus dihindari, yaitu :
a.       Empat cacat perilaku, yaitu  pembunuhan, pencurian, hubungan kelamin yang salah dan ucapan yang salah
b.      Empat dorongan melakukan kejahatan yaitu  keinginan, kebencian, ketakutan dan kebodohan
c.       Enam saluran menghabiskan kekayaannya yaitu minuman keras, judi, berkeluyuran di jalan yang tidak pada waktunya, bergaul dengan wanita – wanita penghibur, teman yang jahat dan malas
d.      Empat jenis sahabat palsu dan sejati
            Enam arah ini hendaknya harus diketahui dan dilaksanakan oleh anak-anak seperti halnya tanggung jawab dengan berpedoman pada enambelas hal yang harus dihindari. Tanggung jawab ini jika dilaksanakan secara penuh, maka dengan mudah akan terlihat betapa norma-norma tersebut akan membawa rasa-syukur, hormat dan cinta, dan betapa norma-norma tersebut akan menuntun kita pada suatu ikatan kekeluargaan yang kuat.

Nammo Buddhaya

Selasa, 14 Oktober 2014

Media Sebagai Panglima



Media Sebagai Panglima
Artikel yang berjudul “Media Sebagai Panglima” ditulis oleh seorang penulis yang cukup terkenal yang bernama Seno Gumira Ajidarma. Artikel ini merupakan salah satu karyanya yang ditulis pada hari Selasa, 4 Juli 2014 dan bertempat di Kebon Jeruk Jakarta.
Tujuan beliau menulis artikel ini yaitu untuk mengkritik kepada para awak media yang tidak lagi bersifat netral, melainkan digunakan sebagai alat untuk kepentingan sendiri atau suatu kelompok tertentu, terutama untuk para awak media pada saat sekarang ini. Beliau menginginkan media yang bersifat netral seperti cita-cita kelahiran media, karena media adalah konstruksi kenyataan dengan pencapaian yang sangat berdaya, sehingga nyaris merupakan ilusi kenyataan yang sempurna. Netral tidaknya media tidak melekat dan tidak terdapat pada media itu sendiri, melainkan media yang sesuai dengan produksi wacana. Dalam penyampaian media yang terjadi saat ini kurang sesuai atau bahkan tidak sesuai dengan fakta dan merugikan khalayak umum dan kelompok-kelompok tertentu.
Dalam artikel ini terdapat beberapa fakta unik, diantaranya: para wartawan yang mengikuti arus, terjebak oleh mitos bahwa suatu berita seharusnya bersifat netral, berita hanya terakali dan termanfaatkan sebagai corong propaganda kaum politisi yang licin, promosi gratis para cukong, khotbah nabi-nabi gadungan, kilah aparatur negara, dan pembenaran diri golongan militer yang mentalitasnya setara dengan preman. Selain itu fakta unik lainnya yaitu bahwa para wartawan bukanlah wartawan, melainkan sekedar instrument media yang bekerja sebagai robot, menjadi mesin bahasa canggih bagi kegagapan para pemikir medioker, dan memberi sumbangan besar atas ke-serba-sesat-an pemberitaan.
Setelah membaca artikel ini seharusnya masyarakat atau khalayak umum dapat membedakan media mana yang dapat di percaya dan media mana yang hanya memanipulasi. Karena sudah sangat jelas sekali bahwa kebanyakan media sekarang hanya mencari keuntungan pribadi atau kelompok dan karena terbawa arus pemberitaan maka banyak para wartawan yang menyesatkan. Disini, masyarakat atau khalayak umum diharapkan agar dapat memilah media yang dapat dipercaya sehingga tidak tertipu dengan media yang hanya mencari keuntungan semata.
Penggunaan bahasa yang digunakan dalam artikel ini banyak mengandung bahasa yang sulit dimengerti, karena penggunaan bahasa yang mengakibatkan masyarakat tidak dapat memahami apa yang dijelaskan dalam artikel ini.